Berkebun – Menjawab Panggilan dan Merawat Alam
Berkebun bukan sekadar hobi atau kegiatan mengisi waktu luang. Berkebun juga memiliki banyak manfaat, bukan hanya untuk tubuh saja, tetapi juga untuk hati dan lingkungan. Membantu tubuh lebih aktif karena banyak bergerak : mencangkul, menyiram, menanam, dan merawat tanaman. Udara segar dan sinar matahari pagi membantu menjaga kesehatan tubuh. Bahkan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih tenang. Ada manfaat ekonomi juga yang di dapat untuk kebutuhan sehari-hari ; bisa menghasilkan sayur, buah, atau rempah untuk kebutuhan rumah tangga – bahkan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Bahwa di balik tangan yang kotor oleh tanah, ada makna yang lebih dalam : kita sedang ikut menjaga keseimbangan alam dan membantu keberlangsungan makhluk hidup.
Pesan Paus Fransiskus tentang alam sangat kuat, manusia dipanggil untuk menjaga bumi sebagai “rumah bersama.” Dalam ensiklik Laudato Si’, Paus menegaskan bahwa bumi bukan milik segelintir orang, melainkan milik semua makhluk. Kerusakan lingkungan berarti merusak kehidupan bersama.

Moment Frater Live in 2026 ke wilayah-wilayah se-PKKC, maka pada Sabtu 2 Mei 2026, kami dari Wilayah St. Mathias memanfaatkan kesempatan yang baik ini dengan kegiatan BERKEBUN – “MENANAM.” Mencoba melakukan bersama dengan Frater DOMI “sebuah langkah kecil” untuk menjawab Panggilan Merawat Alam, dengan melibatkan OMK dan ibu-ibu. Walau kehadiran OMK tidak sesuai dengan yang di harapkan, tetapi kegiatan tetap berjalan dengan baik, suka cita, riang gembira walau dengan kondisi tanah yang masih becek karena di guyur hujan satu hari sebelumnya.
Dalam kesempatan itu, di hadirkan juga salah satu umat wilayah, Pemerhati Lingkungan / Ekologi yaitu Bapak Matheus Untung untuk memberikan sedikit penyuluhan – pengetahuan dasar, pemahaman atau edukasi kepada anak-anak muda
– generasi penerus untuk bagaimana kita mencintai alam ini.

Dalam paparan singkatnya, beliau mengatakan bahwa kita semua harus peduli sama lingkungan alam sekitar dengan melakukan hal-hal yang positif ; menanam tanaman atau hal-hal lain agar ekosistem tetap terjaga. Bahwa menanam sesuatu (apa saja) berarti kita telah memberikan berkontribusi nyata terhadap alam, dan harapannya adalah akan memperoleh hasilnya. Tapi di luar itu kita di latih untuk menikmati proses
; menghidupkan benih menjadi besar – melatih kesabaran – ketelatenan – mencintai atau bahkan berkomunikasi dengannya. Jadi bukan hanya kita menanam, lalu kita akan memperoleh hasilnya. Tidak seberapa kalau di bandingkan dengan biaya dan tenaganya. Ibarat seperti proses hidup manusia.
Alam memberi kita kehidupan ; udara untuk bernapas, air untuk diminum, dan tanah untuk menanam. Namun, tanpa perawatan, semua itu bisa rusak. Berkebun adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Sebutir benih, setetes air, dan hati yang mau peduli.
Saat kita menanam satu pohon atau merawat satu tanaman, kita sedang ikut menjaga kehidupan lain. Tanaman memberi oksigen, menjadi rumah bagi serangga, dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Berkebun mengajarkan nilai kesabaran ; benih tidak langsung tumbuh, tanaman tidak langsung berbuah. Sama seperti alam, semuanya butuh proses. Dari situ kita belajar menghargai waktu dan kehidupan. Berkebun juga adalah cara sederhana untuk menjawab panggilan alam. Dari tanah yang kita sentuh, kita belajar bahwa hidup ini saling terhubung. Merawat tanaman berarti merawat masa depan.
Karena saat kita menanam, kita tidak hanya menumbuhkan tanaman, kita juga menumbuhkan harapan bagi bumi.

Berkebun mengajarkan kita bahwa merawat itu lebih penting daripada memiliki. Bahwa memberi waktu dan perhatian adalah bentuk cinta yang paling nyata. Berkebun juga dapat menjadi cara sederhana untuk ikut merawat bumi sebagai rumah bersama.
Saat menanam dan merawat tanaman, kita belajar mencintai kehidupan, menghargai proses, dan menjaga alam yang dipercayakan Tuhan kepada manusia. Saat kita merawat tanaman, kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh, yang tidak hanya mengambil dari bumi, tetapi juga memberi kembali.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa merawat alam adalah bagian dari iman dan kasih kepada sesama. Bumi bukan warisan dari nenek moyang saja, tapi titipan untuk generasi mendatang.

Merawat alam tidak selalu dimulai dari hal besar, Cukup dari tangan yang mau menanam,
Dan hati yang mau menjaga.
Yohanes Saliver M. ( YAN )
Koordinator Wilayah St. Mathias


Foto Penulis
Users Today : 54
Users Yesterday : 91
Users Last 7 days : 563
Users Last 30 days : 2149
Users This Month : 888
Users This Year : 11748
Total Users : 113004