Komuni Pertama: Saat Pertama Menjadi Tabernakel Berjalan
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan pada Minggu pertama Juni 2026 menjadi momen istimewa bagi Paroki Keluarga Kudus Cibinong. Dalam rangkaian perayaan yang diawali dengan Perayaan Ekaristi pada Sabtu, 6 Juni 2026, sebanyak 118 anak menerima Komuni Pertama, sebuah langkah penting dalam perjalanan iman mereka sebagai umat Katolik.
Para peserta Komuni Pertama didominasi oleh anak-anak yang duduk di bangku SD dengan rentang usia 10–12 tahun. Namun, ada pula peserta yang telah menginjak jenjang SMP bahkan SMA. Penerimaan Komuni Pertama ini tentu tidak dilakukan secara mendadak. Sejak Januari, mereka telah mengikuti berbagai rangkaian persiapan untuk membantu mereka memahami makna Ekaristi secara lebih mendalam.

Masa persiapan diisi dengan kegiatan pembelajaran, rekoleksi, dan refleksi. Para pendamping yang terdiri atas katekis dan frater memberikan berbagai pengajaran untuk mempersiapkan anak-anak. Salah satu materi utama yang diberikan adalah mengenal Ekaristi dan memahami perbedaan antara hosti biasa dan Tubuh Kristus. Melalui pembelajaran ini, para pendamping berharap anak-anak dapat memahami secara sungguh-sungguh makna Ekaristi. Tidak hanya memahami, mereka juga diharapkan mampu mencintai Ekaristi dengan sepenuh hati.
“Mereka harus menyadari bahwa Ekaristi adalah puncak iman. Karena itu, para pembimbing juga menanamkan pentingnya mencintai Ekaristi,” ungkap Pak Tema, salah satu katekis yang mendampingi.
Salah satu calon penerima Komuni Pertama, Riu, mengungkapkan bahwa penerimaan Komuni Pertama ini terasa seru dan menggembirakan baginya. Ia mengatakan bahwa selama ini dirinya penasaran dengan komuni. “Ya, paling kalau dari komuni itu penasarannya dari rasanya.” Kini, rasa penasarannya telah terjawab. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa setelah menerima Komuni Pertama, ia ingin mengikuti berbagai kegiatan di Gereja. Hal tersebut dibuktikan dengan dirinya yang telah didaftarkan untuk mengikuti salah satu kegiatan di Gereja.

Dalam perayaan tersebut, Romo Wahyu selaku pemimpin Ekaristi sekaligus Romo Paroki menitipkan pesan penting bagi anak-anak yang menerima Komuni Pertama. Dalam homilinya, Romo Wahyu menekankan bahwa dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus, mereka menjadi tabernakel berjalan.
“Anak-anakku, kalian menjadi tabernakel berjalan karena Tubuh Kristus akan berdiam dalam diri kalian. Tubuh kalian harus selalu berada dalam keadaan suci supaya Tuhan Yesus betah tinggal di dalam diri kalian dan memotivasi kalian untuk melakukan hal-hal yang baik,” ungkap Romo Wahyu.
Sebagai tabernakel berjalan, Romo Wahyu mengingatkan bahwa anak-anak harus selalu menghidupi semangat TGB. TGB merupakan singkatan dari Terima Kasih, Gembira, dan Berbagi. Terima kasih berarti bersyukur kepada Yesus yang berkenan bersemayam dalam diri kita. Gembira berarti menunjukkan hati dan wajah yang penuh sukacita karena Yesus telah hadir dalam diri kita. Sementara itu, berbagi berarti berkat yang diterima tidak boleh berhenti pada diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada orang-orang di sekitar.
“Hosti tidak berhenti di mulut, tetapi berlanjut ke tangan untuk membantu orang-orang yang kesusahan,” ungkap Romo Wahyu.
Semangat menjadi tabernakel berjalan tidak berhenti pada hari penerimaan Komuni Pertama. Karena itu, Romo Wahyu dan para pendamping berharap anak-anak terus bertumbuh dalam kehidupan menggereja, baik sebagai misdinar, aktif di lingkungan, maupun melalui berbagai kegiatan pelayanan lainnya.
Pak Berry selaku Ketua Panitia mengungkapkan harapannya, “Ya, pasti. Semoga anak-anak bertumbuh dalam iman. Mereka diberkati dengan talenta yang dapat terus diasah sehingga mampu aktif di Gereja. Setelah menerima komuni, terbuka jalan bagi mereka untuk menjadi misdinar ataupun terlibat dalam berbagai pelayanan lainnya.”

Menyambut Tubuh dan Darah Kristus untuk pertama kalinya menjadi momen yang akan selalu dikenang oleh anak-anak tersebut. Namun, sebagaimana diingatkan oleh Romo Wahyu, Komuni Pertama bukanlah akhir, melainkan awal. Dari altar, mereka diutus untuk menjadi tabernakel berjalan yang menghadirkan Kristus melalui kata, sikap, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis:
Paskalis Sunu Sandya Santiko

Foto penulis


Users Today : 41
Users Yesterday : 91
Users Last 7 days : 572
Users Last 30 days : 2438
Users This Month : 900
Users This Year : 14132
Total Users : 115388